“Katanya mau efisien, tapi kok keluar kota dan menghabiskan anggaran. Bagaimana dunia pendidikan Lamteng mau maju jika praktik seperti ini sudah dilarang tapi masih dilaksanakan. Kan bisa dilaksanakan di sini lebih efisien serta tidak menghabiskan anggaran dana BOS,” tegasnya.
Kepala sekolah itu juga membeberkan estimasi biaya yang dinilai terlalu besar.
“Jika satu orang saja dikenakan biayanya Rp3 juta, bisa dikalikan jumlah orang yang berangkat terdapat sekitar 140 orang. Itukan ada fee-nya pasti, ambil-ambilah nanti muntahnya belakangan,” keluhnya.
Sementara itu, Ketua K3S Kabupaten Lampung Tengah, Marsudi, menjelaskan keberangkatan ke Yogyakarta memang menghabiskan anggaran besar, namun menurutnya biaya per orang hanya Rp2,8 juta, bukan Rp3 juta seperti yang disebutkan sejumlah kepala sekolah.
“Yang Rp2,5 juta untuk mobil dan sewa hotel, yang 300 ribu untuk operasional termasuk membayar narasumber selama lima hari mulai tanggal 28 September hingga 2 Oktober 2025, dan kegiatan ini menggunakan dana pribadi. Setelah itu nantinya untuk mengadakan bimtek kembali di masing-masing kecamatan sebagai narasumber yang berangkat kemarin,” elaknya.












