Menurutnya, pati singkong saat ini dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas, tekstil, farmasi, hingga plastik ramah lingkungan berbasis biomaterial. Bahkan, komoditas tersebut juga memiliki prospek besar sebagai bahan baku energi terbarukan.
“Jangan salah melihat singkong. Singkong bukan hanya untuk makanan, tetapi menjadi bahan baku berbagai industri, mulai dari kertas, tekstil, farmasi hingga plastik ramah lingkungan. Nilai ekonominya sangat besar jika diolah,” tegas Faisol.
Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan industri nasional terhadap produk turunan singkong masih sangat tinggi. Saat ini produksi tapioka dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan nasional sehingga sisanya masih dipenuhi melalui impor.
Karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan hilirisasi agar daerah penghasil singkong seperti Lampung Timur mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Faisol juga menyebut Lampung Timur memiliki modal besar untuk berkembang sebagai kawasan industri berbasis pertanian dengan produksi singkong mencapai sekitar 1,3 juta ton per tahun, produksi padi sekitar 519 ribu ton, kakao 3.400 ton, serta komoditas unggulan lain seperti kopi, kelapa, sawit, dan lada hitam.
Untuk meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah, Kementerian Perindustrian juga mendorong penerapan berbagai standar mutu seperti Good Manufacturing Practices (GMP), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), serta sertifikasi halal.
Selain itu, pemerintah menyediakan program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi melalui subsidi potongan harga hingga 40 persen guna mempercepat modernisasi industri kecil dan menengah.
“Saya percaya di bawah kepemimpinan Ibu Bupati beserta jajarannya, Lampung Timur mampu bertransformasi dari daerah penghasil komoditas mentah menjadi sentra industri olahan pangan yang berdaya saing tinggi, bahkan mampu menembus pasar ekspor,” pungkas Faisol.






