Rosim menilai, sejumlah indikator pembangunan pada masa kepemimpinan Mustafa menunjukkan tren positif, termasuk peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan penurunan angka kemiskinan secara bertahap.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pembelajaran dari sosok pemimpin tidak hanya dilihat dari capaian program, tetapi juga dari pengalaman menghadapi dinamika politik dan tantangan pembangunan daerah.
“Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi ruang refleksi bahwa pengalaman adalah guru terbaik dalam memahami dinamika pemerintahan dan pembangunan daerah,” katanya.
Rosim menambahkan, generasi muda harus mulai mempersiapkan diri sebagai penerus estafet kepemimpinan di masa depan.
“Sebagai pemuda, saya percaya bahwa menimba ilmu dari para pemimpin terdahulu adalah bagian dari proses menyiapkan diri untuk masa depan. Karena pada akhirnya, estafet kepemimpinan akan sampai pada generasi kami. Dan ketika saat itu tiba, yang dibutuhkan bukan hanya semangat, tetapi juga kedewasaan dalam berpikir dan keteguhan dalam bersikap. Gaya kepemimpinan setiap pemimpin bisa menjadi referensi, termasuk gaya kepemimpinan Bang Mustafa,” tutup Rosim Nyerupa. (Red)












