Dalam pesannya, Andi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hari Santri bukan sekadar seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen moral dan nasionalisme. Santri, katanya, adalah benteng pertahanan bangsa dari degradasi moral dan perpecahan sosial.
“Santri bukan hanya penjaga moral bangsa, tapi juga penjaga peradaban dunia. Dari pesantren, semoga lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang berakhlak dan membawa Indonesia berkontribusi positif di kancah dunia,” pungkasnya.
Andi juga mengajak para santri untuk terus belajar, berkolaborasi, dan membuka diri terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual. Dengan semangat gotong royong dan keikhlasan, santri dapat menjadi motor perubahan bagi Indonesia menuju bangsa yang berdaya saing global.
💡 Refleksi Hari Santri ke-25
Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2025 menjadi momen penting untuk mengingat kembali peran santri dalam sejarah bangsa. Sejak resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari tahun 1945, semangat santri telah menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan. Kini, di abad ke-21, perjuangan itu berlanjut dalam bentuk baru: melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan dengan ilmu pengetahuan dan akhlak.
Andi Satria berharap generasi muda santri dapat melanjutkan estafet perjuangan itu dengan penuh semangat dan optimisme. Menurutnya, santri yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas akan menjadi aset bangsa untuk membangun Indonesia yang bermartabat dan berperadaban. (Edi)












