Ia menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang sudah biasa terjadi dan tidak perlu menjadi sumber perpecahan di tengah umat. Justru, momentum Ramadan harus menjadi ajang memperkuat ukhuwah Islamiyah dan persatuan.
Menurutnya, Muhammadiyah dalam menetapkan awal Ramadan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang telah lama menjadi pedoman resmi organisasi. Sementara pemerintah mengombinasikan metode hisab dan rukyat dalam sidang isbat.
“Mari kita sikapi dengan dewasa. Jangan sampai perbedaan ini memecah belah kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh keikhlasan,” tambahnya.
Eko juga menyampaikan bahwa pada malam pertama Ramadan versi Muhammadiyah, sebanyak 97 masjid dan 55 mushola Muhammadiyah di Lampung Tengah telah melaksanakan salat tarawih secara serentak.
Hal tersebut menunjukkan kesiapan warga Muhammadiyah dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 H dengan penuh semangat dan kekhusyukan.












