Warga juga menyoroti lemahnya penertiban di wilayah lain seperti Pangkalan, yang masih dipenuhi warung remang-remang meski sering dirazia. “Setelah razia usai, warung buka lagi. Ini kalau bukan pembiaran, apa namanya?” keluhnya.
Ungkapan “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan terlihat jelas” menjadi sindiran tajam terhadap kinerja penegak perda di Lima Puluh Kota.
Warung tuak bernama Gian kini menjadi sorotan publik karena diduga menjadi tempat nongkrong favorit remaja di bawah umur. Campuran antara minuman keras, hiburan malam, dan kehadiran LC menjadikan lokasi tersebut rawan penyimpangan moral.
“Banyak anak muda yang mulai terpengaruh. Pemerintah jangan hanya diam, kenapa harus menunggu rusak dulu baru bertindak,” ujarnya lagi.
Sementara itu, seorang tokoh masyarakat berinisial ST (64) menilai lemahnya pengawasan pemerintah dan aparat hukum menjadi pemicu merosotnya moral remaja.
