Tak hanya alat pertanian, praktik mencurigakan juga terlihat dalam distribusi pupuk bersubsidi. Seorang warga berinisial M mengaku namanya kerap dipakai sebagai penerima, padahal ia hanya sekali menerima pupuk.
“Nama saya dipakai terus, tapi kenyataannya baru sekali saya terima pupuk, itu pun cuma tiga karung,” bebernya.
Ia menambahkan, distribusi pupuk justru diduga diarahkan ke Kios Tani Mandiri milik Gono, bukan ke petani yang berhak.
“Pupuk memang sempat dibongkar di gudang Gapoktan, tapi akhirnya dibawa lagi ke toko itu. Diduga ada kongkalikong dengan Ketua Gapoktan,” ujarnya.
Rangkap jabatan Iskandar sebagai Ketua Gapoktan sekaligus Ketua BPD menuai kecurigaan serius. Warga menilai hal itu membuat fungsi kontrol lumpuh.
“Dia awasi dirinya sendiri. Jadi Ketua BPD mungkin supaya tidak ada yang berani mengoreksi,” sindir seorang warga.












