Rangkaian kegiatan dimulai dari sosialisasi, pelatihan, teknologi alat, hingga monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini menekankan pada teknologi inovasi aspek bidang produksi, yaitu anggota KWT dilatih memanfaatkan alat penepung untuk mengolah ampas jahe menjadi bubuk halus, yang kemudian dijadikan bahan dasar pembuatan cookies. Selain aspek produksi, tim juga mendampingi KWT dalam hal branding, desain kemasan, hingga strategi pemasaran online agar produk dapat bersaing di pasar.
Menurut Fizzaria Khasbullah, program ini tidak hanya menambah keterampilan anggota KWT, tetapi juga meningkatkan kreativitas dan inovasi mereka dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. “Kami berharap produk ini nantinya dapat memperoleh izin PIRT dan memperluas pangsa pasar, sehingga mampu meningkatkan pendapatan anggota KWT sekaligus mengurangi limbah produksi jamu,” ujarnya.













